Langsung ke konten utama

Batik Rifaiyah, Motif Tiga Negeri Syarat Spiritual

Judul     : Batik Rifaiyah, Motif Tiga Negeri Syarat Spiritual
Sumber : Pemkab Batang


batik rifaiyah batang

Batik Rifaiyah Motif Tiga Negeri yang sudah menjadi primadona pencinta batik, dalam prosesnya memiliki sejarah dan syarat spiritual. Sehingga, tidak heran kalau harganya pun cukup mahal, tidak hanya dalam negeri saja yang memburu batik tersebut, tapi juga mampu menembus pasar ekspor.

Ketua Kelompok Tunas Harapan Batik Rifaiyah, Miftakhutin mengatakan, Batik Rifaiyah merupakan warisan nenek moyang dari keturunan Syeh KH. Ahmad Rifai dari Desa Kali Pucang Wetan, Kecamatan Batang, yang menurut sejarah, proses pembuatan batik sebagai media untuk syiar agama Islam pada zaman dahulu.


"Dalam proses pembuatannya ada ritual yang biasa dijalankan sebelum membatik, dengan sholat Dhuha terlebih dahulu, membatiknya seringkali diiringi kidung syair berbahasa Jawa dan Arab yang berisi nasihat kepada manusia dan lingkungan alam semesta," kata Miftakhutin di Galeri dan Workshop Batik Rifaiyah Desa Kalipucang Wetan, Kabupaten Batang, Selasa (22/5).

Miftakhutin, juga mengatakan bahwa batik Rifaiyah tidak diklaim komunitas Rifaiyah, akan tetapi sudah terjadi akulturasi batik dari daerah lain seperti Lasem yang berdominan warna merah, Solo dominan warna coklat, dan Rifaiyah sendiri dominan warna biru indigo.

"Dari pencampuran tadi memunculkan jenis batik baru yang diberi nama Batik Tiga Negeri khas Rifaiyah dan sudah dikembangkan turun-menurun," ungkap Miftakhutin yang merupakan pembatik setempat sebagai generasi kelima.

Dijelaskan juga ada ciri khas batik tiga negeri rifaiyah, yang melarang penggambaran motif hewan secara utuh pada lembaran kain, karena mereka menyakini itu berdosa, adapun proses pembuatannya yang kasar waktunya mencapai 3 minggu selesai, sedang mencapai 2 bulan, dan yang halus mencapai 6 bulan untuk satu helai kain.

"Untuk harga Batik Rifaiyah Tiga Negeri termurah dijual seharga Rp350 ribu untuk batik kasar, untuk batik sedang mencapai Rp4 juta, batik halus dijual Rp6,5 juta, dengan pemasaran seluruh Indonesia, Singapura, Malaysia, India, Korea, Jepang, Yunani, Amerika, dan Swedia," jelas  Miftakhutin.

Lebih lanjut batik Rifaiyah murni dilakukan dengan cara mencanting atau batik tulis, tidak mau berubah ke industri karena lebih mempertahankan ciri tradisi. Sehingga, kita hanya melayani pesananan terbatas.

"Kami membatik bukan menjadi bagian hidup, karena kalau secara ekonomi tidak memungkinkan, kita hanya pertahankan tradisi dan warisan leluhur,” terang Miftakhutin.

Keberpihakan Pemerintah Daerah sangat mendukung sekali dengan memberikan bantuan alat dan pelatihan serta mengikuti pameran, tidak hanya itu Pemkab juga mempromosikan batik rifaiyah ke setiap tamunya yang dating berkunjung ke Batang.

Bupati Batang, Wihaji mengatakan, Batik Rifaiyah memang punya karakter dan memiliki ciri khas, karena proses pembuatannya dengan menggunakan hati, sehingga wajar kalau harganya pun mahal.

Bupati Batang, juga mengatakan untuk menggeliatkan Batik Rifaiyah sebagai ikon batik Batang, Pemkab akan membuat regulasi untuk keberpihakan usaha batik yang ada di Batang tentunya dengan mewajibkan ASN dalam satu hari menggunakan batik tulis Rifaiyah dan harus produk Batang asli.

"Untuk mengangkat batik, kita akan boomingkan di tingkat daerah, yang mewajibkan ASN untuk menggunakan pakaian batik khas Rifaiyah," tegas Bupati Batang, Wihaji.

Untuk mendukung Visit to Batang 2022 sebagai Heaven of Asia lanjutnya, Pemkab akan memperhatikan dan mendukung usaha-usaha ekonomi kreatif karena wisata tidak lepas dari usaha ekonomi kreatif. dan salah satu kekuatan kita ada juga pada Batik Rifaiyah.

"Kita akan hidupkan kampung-kampung ekonomi kreatif, salah satunya kampung batik Rifaiyah. Oleh karena itu, Pemkab akan hadir mempersiapkan segala sesuatunya dari pembatiknya sampai bahan baku dan pernak pernik yang medukungnya," kata Bupati Batang.

Karena keterbatasan bahan baku terutama kain, maka untuk mendukung ketersediaan kainnya Bupati Batang akan berkomunikasi dengan Pabrik Tekstil yang ada di Batang dalam rangka bina lingkungan  meminta stok bahan kain.

"Karena kita memiliki Pabrik Tekstil dan untuk bina lingkungan maka kami minta ada pendistribusian langsung bahan kain untuk Kelompok Usaha Bersama (KUB) batik yang ada di Batang," pinta Bupati Batang kepada Pabrik Tekstil yang ada di Batang. (Humas/Edo)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sejarah Batik Tanah Liek

Judul      : Batik Tanah Liek, Batik Kuno Minangkabau yang "Bangun" dari Mati Suri Sumber  : Kompas.Com Batik Tanah Liek, Batik Kuno Minangkabau yang "Bangun" dari Mati Suri Penulis : Kontributor Padang, Rahmadhani Seorang perajin di Kota Padang, Sumatera Barat, Rabu (15/8/2012), memperlihatkan batik tanah liek khas Minangkabau. Batik tersebut menggunakan teknik pewarnaan dasar kain dengan perendaman di dalam larutan cairan tanah liat.(KOMPAS/INGKI RINALDI) PADANG, KOMPAS.com - Bicara soal batik kini tak hanya bicara soal Pulau Jawa. Hampir seluruh daerah di Nusantara juga sudah memiliki batik dengan motif khas masing-masing.  Di Sumatera Barat, misalnya. Batik bahkan menjadi salah satu kelengkapan pakaian adat. Namanya Batik Tanah Liek. Namanya memang jarang dikenal karena tergerus oleh penggunaan songket dan sulaman dari Sumatera Barat.  Batik ini sempat hilang dari peredaran, tidak diproduksi lagi oleh masyarakat sejak Islam mas...

Sejarah Batik Bakaran Juwana-Pati

Judul     : Sejarah Batik Bakaran Juwana-Pati Sumber : Pem. Kab. Pati Motif batik tulis Bakaran bila dilihat dari segi warna mempunyai mempunyai ciri tersendiri, yaitu warna yang mendominasi batik Bakaran adalah hitam dan coklat. Unsur corak atau motifnya beraliran pada corak motif batik Tengahan dan batik Pesisir. Aliran Tengahan, karena yang memperkenalkan batik tulis pada wilayah Desa Bakaran adalah dari kalangan kerajaan Majapahit. Dan Jenis motif tengahan ini diindikasikan pada corak batik Padas Gempal, Gringsing, Bregat Ireng, Sido Mukti, Sido Rukun, Namtikar, Limanan, Blebak Kopik, Merak Ngigel, Nogo Royo, Gandrung, Rawan,Truntum, Megel Ati, Liris, Blebak Duri, Kawung Tanjung, Kopi Pecah, Manggaran, Kedele Kecer, Puspo Baskora, ungker Cantel, blebak lung, dan beberapa motif tengahan yang lain.