Langsung ke konten utama

Sejarah Batik Tanah Liek

Judul      : Batik Tanah Liek, Batik Kuno Minangkabau yang "Bangun" dari Mati Suri
Sumber  : Kompas.Com

Batik Tanah Liek, Batik Kuno Minangkabau yang "Bangun" dari Mati Suri
Penulis : Kontributor Padang, Rahmadhani

Sejarah Batik Tanah Batik
Seorang perajin di Kota Padang, Sumatera Barat, Rabu (15/8/2012), memperlihatkan batik tanah liek khas Minangkabau. Batik tersebut menggunakan teknik pewarnaan dasar kain dengan perendaman di dalam larutan cairan tanah liat.(KOMPAS/INGKI RINALDI)

PADANG, KOMPAS.com - Bicara soal batik kini tak hanya bicara soal Pulau Jawa. Hampir seluruh daerah di Nusantara juga sudah memiliki batik dengan motif khas masing-masing. 

Di Sumatera Barat, misalnya. Batik bahkan menjadi salah satu kelengkapan pakaian adat. Namanya Batik Tanah Liek. Namanya memang jarang dikenal karena tergerus oleh penggunaan songket dan sulaman dari Sumatera Barat. 

Batik ini sempat hilang dari peredaran, tidak diproduksi lagi oleh masyarakat sejak Islam masuk ke Minangkabau. Namun belakangan, batik tanah liek mulai dikenal lagi seiring dengan banyaknya gerai-gerai batik yang menjual batik kuno khas Sumatera Barat ini. 


Ahli sejarah dari Universitas Andalas Prof Gusti Asnan menuturkan, hadirnya batik di Sumatera Barat dipengaruhi oleh orang Jawa yang datang dalam jumlah besar ke wilayah Minangkabau sebelum Islam masuk. 

Menurut dia, masuknya seni membatik ini sejalan dengan Ekspedisi Pamalayu dari Kerajaan Singosari dari Tanah Jawa. Ekspedisi ini juga berhasil membawa Putri Minangkabau ke Tanah Jawa yang melahirkan Raja Aditiawarman, salah satu raja di Pagaruyuang. Pagaruyuang dikenal sebagai pusat pemerintahan di Minangkabau.  

Kembali ke Ekspedisi Malayu, utusan Kerajaan Singosari ini masuk ke Sumatera melalui aliran Sungai Batang Hari Jambi. Yang jika ditelusuri aliran sungai ini menembus wilayah Kabupaten Dharmasraya saat ini. 

Pasukan ini juga sempat mendirikan kerajaan di Dharmasraya dan dianggap salah satu kerajaan terbesar yang menguasai Pulau Sumatera waktu itu. "Saat ini Bumi Lansek Manih (sebutan Dharmasraya) dikenal sebagai sentral penghasil batik tanah liek yang produktif di samping Kota Padang dan Kabupaten Pesisir Selatan," tutur Gusti. Namun, lanjut Gusti, kejayaan batik ini tidak berlangsung lama karena kuatnya pengaruh Islam di Tanah Minangkabau. Ini diperkirakan terjadi pada akhir abad ke-18.  

Masuknya Islam juga turut mempengaruhi corak pakaian masyarakat yang saat itu hanya didominasi pakaian bewarna putih dan hitam. "Pada waktu itu pakaian bercorak yang lahir dari seni tradisi kreatif dianggap tak lazim. Akibatnya batik tanah liek tidak lagi dikenal hingga berpuluh tahun kemudian," ujarnya. 

"Bangun" kembali 

Belakangan, batik tanah liek kembali bangun dari mati suri, diperkirakan sejak awal reformasi. Saat itu, ide-ide kreatif dan inovatif bermunculan. Tak hanya itu, keinginan pemerintah daerah untuk memiliki produk khas daerah masing-masing juga turut membangkitkan semangat tradisi di daerah masing-masing. "Saya lihat Pemerintah Kabupaten Dharmasraya cukup getol memberikan dukungan terhadap batik tanah liek ini," tutur Gusti.

Sejarah Batik Tanah Liek
Perajin batik tanah liek saat membuat motif. Ist(Kompas.com/Rahmadhani)


Hal ini diamini oleh Bambang Hermawanto, seorang perajin dan pebisnis batik tanah liek dari Kecamatan Sitiung, Kabupaten Dharmasraya. Pada tahun 2000, pemilik merek Citra Batik ini mencoba menghidupkan kembali semangat pembuatan batik tanah liek ini di tengah masyarakat melalui kegiatan pelatihan. 

"Saat Dharmasraya memekarkan diri tahun 2003 lalu, saya membawa batik tanah liek ke Bumi Lansek Manih ini," ucapnya. Tak hanya menghidupkan kembali produksi batik, dia juga menambahkan satu motif batik yang dikenal dengan motif bunga sawit. 

"Hal ini dilatarbelakangi dengan alam Dharmasraya yang dipenuhi kebun sawit," ujarnya. Kini motif tersebut laku di pasaran dan menjadi ciri khas batik tanah liek Dharmasraya. Bambang tetap memproduksi motif tradisional lain sesuai pesanan, termasuk menerima masukan masyarakat untuk pewarnaan. 

"Ada yang menawarkan pada saya lilin madu lebah. Tapi belum saya lihat. Kami cenderung menggunakan pewarna alami, di samping tanah liat yang menjadi ciri khas," ucapnya. Bangunnya kembali batik kuno ini juga menaikkan harga jual. Kain batik yang dijual Bambang berkisar dari Rp 200.000 hingga Rp 1,5 juta. Karena peluang bisnis yang menjanjikan. Batik tanah liek juga sudah memasuki rumah-rumah mode di Kota Padang.

Belajar hingga Yogyakarta 

Wirda Hanim (62), perajin batik yang meneruskan batik tanah liek dengan merek dagang Citra Monalisa. (KOMPAS/M CLARA WRESTI)


Wirda Hanim, salah satu pelopor pengembangan batik kuno di Kota Padang sejak tahun 1995, menyebutkan, batik asal Sumbar ini dinamakan tanah liek karena menggunakan tanah liek (liat) dalam proses pewarnaannya. 

Warna tanah liat yang kuning kecoklatan ini akhirnya menjadi warna dasar kain sebelum diberi motif. Perjalanan Wirda menemukan batik tanah liek ini juga tidak mudah. 

Awal ketertarikannya terhadap batik ini saat melihat upacara adat di kampung halamannya di Sumanik, Kabupaten Tanah Datar. Dia melihat batik yang dikenakan para pemuka adat, datuak dan bundo kanduang tersebut sudah lapuk dan robek di sana-sini. 

Kain serupa kain lapuk ini pun sudah tidak diproduksi sejak lama. Dengan niat memproduksi kembali batik kuno ini, dia belajar membatik hingga ke Yogyakarta. 

Usai belajar membatik, kali ini dia harus berusaha keras mencari perpaduan warna yang mirip dengan warna batik tanah liek yang pernah dilihatnya sebelumnya. Meskipun berhasil membuat perpaduan warna dengan bahan kimia, dia belum puas.

Batik yang dihasilkan tidak sama dengan aslinya. Akhirnya dia kembali ke Kampung Sumanik dan menelusuri proses pembuatannya. Saat itu, baru tahulah dia bahwa pewarnaan batik tanah liek menggunakan getah tumbuh-tumbuhan dan tanah liat. "Kini namanya sudah dipatenkan menjadi batik tanah liek.

Untuk warna digunakan getah gambir, rambutan, pinang, jengkol dan lainnya," ujarnya. Pembuatannya hampir sama dengan batik pada umumnya, tetapi kain sebelum diberi motif terlebih dahulu direndam dalam air yang sudah dicampur dengan tanah liat. Barulah dibuat motif menggunakan canting dengan model batik tulis.

Setelah motif selesai dibuat, kain lalu diwarnai. Untuk menguatkan warna tanah liek, kain bisa direndam lagi dengan air tanah liat. Untuk motif, hingga saat ini masih tetap menggunakan motif-motif tradisional yang biasanya juga digunakan untuk ukiran Rumah Gadang, seperti motif itiak pulang patang, kaluak paku, pucuak rabuang, dan lainnya.

Motif ini diambil dari fenomena alam yang terjadi di wilayah Minangkabau dan memiliki filosofi hidup orang Minangkabau. Itiak pulang patang misalnya, diambil dari kebiasaan itik yang berbaris rapi saat akan masuk kandang.

Hal ini melambangkan hubungan mamak atau paman dan kemenakan di Minangkabau. Induk itik sebagai mamak adalah panduan bagi anak itik yang dalam hal ini kemenakan. Dalam kebudayaan Minangkabau, mamak memiliki kewajiban untuk membimbing keponakannya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kerajinan Batik Trusmi

Judul : Kerajinan Batik Trusmi Sumber : Pemprov Jabar Daerah sentra produksi batik Cirebon berada di desa Trusmi Plered Cirebon yang konon letaknya di luar Kota Cirebon sejauh 4 km menuju arah barat atau menuju arah Bandung. Di desa Trusmi dan sekitarnya terdapat lebih dari 1000 tenaga kerja atau pengrajin batik. Tenaga kerja batik tersebut berasal dari beberapa daerah yang ada di sekitar desa Trusmi, seperti dari desa Gamel, Kaliwulu, Wotgali dan Kalitengah. Kisah membatik desa Trusmi berawal dari peranan Ki Gede Trusmi. Salah seorang pengikut setia Sunan Gunung Jati ini mengajarkan seni membatik sembari menyebarkan Islam. Sampai sekarang, makam Ki Gede masih terawat baik, malahan setiap tahun dilakukan upacara cukup khidmat, upacara Ganti Welit (atap rumput) dan Ganti Sirap setiap empat tahun. Disepanjang jalan utama yang berjarak 1,5 km dari desa Trusmi sampai Panembahan, saat ini banyak kita jumpai puluhan showroom batik. Berbagai papan nama showroom nampak berjejer menghi...

Corak Warna Batik Sogan | Rona Corak Warna Kelam ; Batik Tiga Negeri

Judul     : Corak Warna Batik Sogan | Rona Corak Warna Kelam ; Batik Tiga Negri Sumber : batiktiganegeri.com Corak Warna Batik Sogan | Rona Corak Warna Kelam Corak Warna Batik Sogan | Rona Corak Warna Kelam | Warna Kalem Batik | Corak Batik, Corak Batik Bunga, Corak Batik Modern | Corak Batik Terkini, Ragam Batik Solo, Batik Tulis Solo Lawasan | Ragam Batik Khas Indonesia, Jakarta 2017 Corak warna batik Sogan terkesan seperti rona rona corak warna kelam, gradasi warna coklat tua kehitam-hitaman ke warna putih, kekuningan keemasan, namun bukanlah warna kuning sebenarnya pada batik.